Diktator Aladin memanggil 3 tahanan politiknya, semuanya orang pandai. Kita sebut saja namanya A, B, dan C.
Aladin berkata: "Aku punya 5 buah topi; 3 berwarna merah, 2 putih."
"Aku akan pasang satu topi di atas kepala kalian," sambung Aladin. "Kalian bisa melihat warna topi teman kalian, tapi tidak bisa melihat topi kalian sendiri."
Aladin melanjutkan: "Yang bisa menebak warna topinya, akan dibebaskan. Tapi yang salah menebak, aku tembak sekarang juga."
"Kalau tidak tahu, aku kembalikan kalian ke penjara."
A melihat ke kedua temannya. Dia berpikir sejenak, kemudian berkata lirih sambil menundukkan kepala: "Saya tidak tahu warna topi saya."
B mendengar perkataan temannya, kemudian melirik ke C. Setelah merenung sebentar, dia juga berkata pelan: "Saya tidak tahu warna topi saya."
Aladin tertawa terbahak-bahak. Dia tidak harus membebaskan dua tahanan ini, dan dia yakin yang ketiga juga akan harus kembali ke penjara karena C ... buta.
Tetapi C setelah merenung sejenak, tiba-tiba berkata: "Saya tahu warna topi saya."
Dan ternyata dia menjawab dengan benar, dan segera bisa menikmati kebebasan.
Bagaimana C bisa tahu? Dan apa warna topinya?
Petunjuk?
Tidak perlu memirkan semua kemungkinan yang bisa muncul. Tahanan kedua cukup melihat tahanan ketiga untuk mengambil kesimpulan.
Jawaban?
Jika B dan C dua-duanya memakai topi putih, A akan segera tahu bahwa topinya merah. Tapi karena A bilang "tidak tahu", berarti topi B dan atau topi C itu merah.
B cukup mengecek apa warna topi C; jika putih, maka B akan langsung yakin bahwa topi dia merah. Karena B bilang "tidak tahu", maka C bisa berkesimpulan bahwa topi dia merah.